Hasil dari Perjanjian Renville menyebabkan wilayah Indonesia yang semakin berkurang dan dibatasi oleh Garis Van Mook. Namun di sisi lain, Indonesia secara tidak langsung mendapatkan pengakuan kedaulatan di mata internasional. Terlebih, dengan adanya Garis Van Mook yang bertujuan untuk menjamin gencatan senjata antara kedua belah pihak. Setidaknya hingga Jenderal Soedirman mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
Meskipun Yogyakarta (ibukota Republik Indonesia pada saat itu) masih aman dan damai, namun Jenderal Soedirman memiliki firasat buruk bahwa Indonesia akan mengalami keadaan genting. Perjanjian damai yang ditandatangani antara kedua belah pihak tidak mampu menenangkan Panglima Besar TNI tersebut. Kekhawatiran Jenderal Soedirman akan nasib Indonesia, khususnya kota Yogyakarta, terbukti benar dengan dikuasainya Lapangan Terbang Maguwo oleh tentara Belanda.
Adalah Jenderal Simon Hendrik Spoor, Komandan Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL), yang menjadi dalang dari Operasi Gagak (Operatie Kraai). Operasi militer yang dinamakan oleh pihak Indonesia sebagai Agresi Militer II Belanda tersebut telah dipersiapkan matang-matang oleh Jenderal Spoor. Pihak Belanda mengklaim bahwa aksi polisional tersebut bertujuan untuk membabat habis ekstrimis-ekstrimis Republikan di Yogyakarta, menguasai ibukota Indonesia, serta menahan para tokoh politik Indonesia.
Jenderal Simon Hendrik Spoor
Layaknya para gagak yang membawa pesan kematian, pada tanggal 19 Desember 1948 sejumlah pesawat tempur dikerahkan oleh Belanda untuk menguasai Lapangan Terbang Maguwo di Yogyakarta. Diterbangkan dari Bandung, para pesawat tempur Belanda diperintahkan untuk membombardir dan menerjunkan sekitar 900 serdadu KNIL. Pertempuran udara yang sangat tidak seimbang bagi TNI yang hanya memiliki tiga unit pesawat tempur Zero bekas tentara Jepang. Sedangkan Belanda diperkuat oleh pesawat tempur Kittyhawk dan Mustang, pesawat pengebom B-25 Mitchell, dan pesawat angkut Douglas DC-3.
Monsignor A. Soegijapranata SJ, uskup Indonesia, menjadi saksi serangan udara Belanda di Yogyakarta. Melalui catatan hariannya, beliau menggambarkan betapa mencekam suasana Yogyakarta pada saat itu.
“...sekitar pukul 10.00 pagi Belanda mulai mendatangkan tiga pesawat pembom. Sesudah berputar di atas kota, mereka menjatuhkan bom, terus menerus berjatuhan, susul-menyusul meledak, tanpa reda. Di mana-mana terdengar deru mesin pesawat terbang, bunyi tembakan senapan, rentetan ledakan senapan mesin berikut dentuman meriam. Sejumlah pengungsi mulai masuk ke Pasturan Bintaran...”
Kota Yogyakarta berhasil dikuasai dan pemerintah Indonesia dikepung oleh pasukan Belanda. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, beserta sejumlah menteri lainnya bersedia untuk diasingkan di Pulau Bangka. Para pemimpin sipil berharap bahwa peristiwa penangkapan tersebut mampu menjadi pembentuk opini publik internasional terhadap adanya serangan yang dilakukan oleh Belanda. Namun di mata serdadu Republik, para pemimpin sipil dianggap menyerah di hadapan Belanda. Sehingga mereka tetap melanjutkan perlawanan secara gerilya.
Setelah kota Yogyakarta diduduki, Belanda berturut-turut berusaha menduduki kabupaten-kabupaten sekitar Kota Yogyakarta yaitu Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan akhirnya Gunung Kidul.
Setelah Belanda menguasai Yogyakarta, kondisi di ibukota menjadi kacau tidak karuan. Indonesia tidak lagi berdaulat di ibukotanya sendiri. Sebagai dampaknya, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) didirikan di Bukittinggi. Perlawanan TNI melalui serangan gerilya secara sporadis tidak mampu membalik keadaan. Bahkan Belanda mengumumkan bahwa TNI sudah tidak ada.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang saat itu telah melepas jabatannya sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengirimkan surat kepada Letnan Jenderal Soedirman untuk meminta izin diadakannya serangan. Jenderal Soedirmab menyetujuinya dan meminta Sri Sultan HB IX untuk berkoordinasi dengan Letkol Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Komandan Brigade 10/Wehkreise III.
Sri Sultan HB IX mengadakan pertemuan empat mata dengan Letkol Soeharto di di Ndalem Prabuningratan. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan untuk mengadakan Serangan Umum pada 1 Maret 1949.
Pada tanggal 1 Maret 1949, beberapa jam sebelum serangan umum berlangsung, sudah banyak gerilyawan yang mulai memasuki kota Yogyakarta. Tepat pada pukul 06.00 pagi, sirene penanda berakhirnya jam malam berbunyi. TNI memanfaatkannya sebagai tanda dimulainya serangan umum.
Kurang lebih 2.500 orang pasukan gerilya TNI di bawah pimpinan Letkol Soeharto melancarkan serangan besar-besaran di jantung Kota Yogyakarta.
Pasukan gerilya mengepung Kota Yogyakarta dari berbagai arah. Mayor Sardjono memimpin pasukannya melakukan penyerangan dari arah selatan. Di arah barat, pasukan gerilya menggempur kota Yogyakarta dibawah pimpinan Letkol Soehoed. Sedangkan dari arah utara, pasukan gerilya yang dipimpin oleh Mayor Soekasno.
Pertempuran-pertempuran hebat terjadi di ruas-ruas jalan kota Yogyakarta. Serangan Umum 1 Maret 1949 terbukti ampuh untuk mengalahkan Belanda dan kembali merebut Yogyakarta. Belanda merasa terkejut dan kurang persiapan dalam menghadapi serangan tersebut sehingga perlawanan yang diberikan kurang begitu berarti.
Dalam waktu singkat, Belanda berhasil didesak mundur. Pos-pos militer ditinggalkan. Beberapa buah kendaraan lapis baja berhasil dirampas oleh pasukan gerilya.
Pasukan RI berhasil menguasai Yogyakarta selama kurang lebih 6 jam. Tepat pada pukul 12.00 siang, Letkol Soeharto memerintahkan pasukannya untuk mengosongkan kota dan kembali menuju pangkalan gerilya seperti yang telah direncanakan sebelumnya.
Berita kemenangan ini segera disebarkan secara estafet lewat radio PC1 di Playen, Gunungkidul, kemudian diteruskan ke pemancar di Bukit Tinggi, kemudian diteruskan oleh pemancar militer di Myanmar ke New Delhi (India) lalu sampai pada PBB yang sedang bersidang di Washington D.C, Amerika Serikat.
Serangan Umum 1 Maret 1949 membawa dampak yang sangat besar bagi pihak Indonesia yang sedang bersidang di Dewan Keamanan PBB. Serangan ini menjadi bukti keberadaan dan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perundingan di Dewan Keamanan PBB serta membuka mata dunia Internasional bahwa TNI tidak hancur seperti yang digembar-gemborkan Belanda. Kemenangan ini juga berhasil mempertinggi moril dan semangat juang pasukan gerilya TNI di wilayah-wilayah lain.
Sumber :
nationalgeographic.co.id
goodnewsfromindonesia.id
Foto 1 : Jenderal Spoor
Foto 2 : Sri Sultan Hamengkubuwono IX


